Sebenarnya kalau Hakim pikir-pikir kelakuannya seminggu ini benar-benar bisa dibilang sangat amat bodoh. Masa hanya karena perkara berantem gara-gara handuk dirinya malah ngepush dirinya ke batas maksimalnya guna ngilangin amarahnya yang berada dipuncak hampir seminggu kemarin. Padahal Hakim bisa aja ngelupain masalah tersebut dan yaudah go with his life like the usual. Buktinya sekarang setelah mengetahui bahwa dia tidak bisa bolos kelas seminggunya hanya untuk latihan di lapangan ataupun sekedar menggunakan alat-alat yang ada di gym kampusnya.

Sebenarnya ini adalah salah satu cara paling ampuh bagi Hakim untuk melampiaskan emosi yang dirasakannya sejak dirinya menggeluti badminton sedari dirinya kecil diajak oleh ayahnya menonton salah satu turnamen badminton yang membuatnya langsung jatuh cinta dengan salah satu olahraga kebanggaan di Indonesia itu. Namun, anehnya, latihan rutin setiap hari yang selalu melewati jadwal itu tidak lantas menyelesaikan amarah yang masih membara di dirinya. Padahal perselisihan semacam itu sudah mereka berdua lalui sedari mereka balik dari turnamen tingkat nasional. Setelah itulah mereka berdua layaknya ujung magnet yang sama didekatkan alias akan menolak satu sama lain.

Contohnya saja. Pernah sekali mereka berdua berselisih di kelas hanya karena berbeda pendapat yang mengharuskan dosen pada mata kuliah waktu itu memisahkan mereka berdua. Atau saling adu smash satu sama lain saat disuruh latihan bersama oleh Coach Andre—yang membuat dirinya tidak menyatukan mereka berdua kembali sejak saat itu—seakan latihan tersebut adalah turnamen tingkat internasional. Dan masih banyak lagi konflik mereka berdua. Hakim si pemilik kepala sekeras batu dan Noel yang juga tak mau mengalah membuat mereka berdua dijuluki Tom & Jerry NSU.

Seperti sekarang. Awalnya Hakim pikir setelah dirinya latihan hari ini yang terbilang cukup menguras energinya apalagi ditambah hari ini merupakan jadwal latihan yang berfokuskan pada punggung dan lengannya, dirinya bisa berleha-leha di sore hari. Namun, saat dirinya kena omelan oleh Alan untuk mencuci pakaian kotornya di lantai bawah Hakim malah menemukan sosok yang menjadi amarahnya setinggi gedung pencakar langit di Ibukota. Baru saja Hakim memasukkan baju kotornya ke dalam mesin cuci, ia malah mendapatkan salah satu hidayah yang menurutnya tidak terlalu penting untuk diucapkan oleh orang aneh—menurut Hakim.

“Baju putih sama berwarna tuh dipisahin. Masa gitu aja gatau.” ucapan tersebut berhasil membuat Hakim menggeram kesal hingga menggertakan giginya.

“Yaudah. Kalo gitu sekalian aja cuciin baju gue,” saut Hakim dengan cepat.

Keduanya masih menatap satu sama lain dengan tajam membuat suasana ruang cuci yang dingin dan sepi itu tiba-tiba saja sepanas lapangan saat dengan bertanding. Noel lah yang memutuskan tatapan terlebih dahulu dengan kembali sibuk memasukkan bajunya, diikuti oleh Hakim yang melakukan hal serupa. Hakim memiliki pikiran untuk segera kabur ke kamarnya setelah mengetahui dirinya terjebak di ruangan yang sama dengan Noel, tetapi tubuhnya berkata lain dimana artinya dia harus naik turun tangga kembali untuk mengambil cuciannya. Maka disinilah sekarang Hakim harus menunggu bersama dengan musuh bebuyutannya.

45 menit berjalan ditemani dengan suara mesin cuci yang berputar dan juga apapun yang sedang dinyalakan oleh Noel dari handphonenya. Mesin cuci Hakim duluan lah yang berbunyi menandakan bahwa cuciannya sudah selesai. Saat dirinya tengah fokus memasukkan pakaiannya ke dalam keranjang dengan posisi berlutut, kepala Hakim yang tengah bersenandung dengan lagu yang menyala di kedua telinganya tersundul cukup keras oleh pintu mesin cuci disebelahnya.

“LU TUH SENGAJA YAA?!” tukas Hakim menghadap Noel sembari mengelus kepalanya yang masih nyut-nyutan. Alis yang menukik beserta tatapan tajam membuat raut muka Noel yang awalnya terlihat sedikit iba malah berubah dengan raut yang sama dengan Hakim.

“Hah apasih. Kok jadi nuduh gue gini. Orang gak sengaja juga,” balasnya tak kalah nyolotnya sembari melanjutkan memasukkan pakaian bersihnya ke dalam keranjang seakan-akan tidak melakukan kesalahan apa-apa. Hal tersebutlah yang menyulut amarah Hakim kembali datang. Terhitung satu menit Hakim tak melepas pandangannya kepada Noel yang terlihat cuek dengan situasi tadi membuat perasaan Hakim yang begitu berantakan beberapa minggu ini semakin tak karuan.

Setelah pakaian pada mesin cuci yang Noel pakai sudah kosong, ia baru menoleh kearah Hakim yang bergerak dengan cepat memasukkan pakaiannya ke dalam keranjang. Tak lama, persis saat Noel ingin menutup pintu mesin cucinya, Hakim sudah kembali berdiri dan mengucapkan satu kalimat sebelum dirinya keluar dari ruang cuci dengan cepat.

“Tai lo no.”

Mungkin dirinya sedikit keterlaluan kali ini pikir Noel.